Kalian pernah merasa kesepian di usia yang sudah cukup dewasa—25 tahun, misalnya? Rasanya aneh, ya? Hidup sudah mulai tertata, tapi hati kadang masih terasa kosong. Aku salah satu dari orang-orang yang merasakannya. Di tengah dunia modern ini, rasa sepi bisa datang tanpa permisi.
Tapi hidup punya caranya sendiri untuk mengejutkan kita.
Aku ingin mengucapkan terima kasih kepada seseorang yang bahkan mungkin tidak mengenalku—Whitney Wolfe Herd. Kalian bisa cari tahu sendiri siapa dia di internet. Singkatnya, berkat inovasinya, aku bisa bertemu dengan seseorang yang sekarang mengisi hari-hariku.
Namanya Rosalinda Octaviana, atau biasa dipanggil Ocha. Tapi kalau aku yang manggil, sih… sekarang udah beda. Iya, aku panggil dia sayang. (TBL TBL TBL…).
Di profilnya tertulis kalau dia berusia 23 tahun dan berasal dari Jakarta Pusat. Waktu itu, aku pertama kali lihat fotonya yang serba hitam—dari atas sampai bawah. Sampai sekarang aku belum sempat nanya, kenapa sih dia pakai baju item-item gitu? Lagi mau melayat, kah, kamu?
Aku bisa ketemu sama dia—Ocha—karena dua hal: algoritma dan mungkin… takdir? Hahaha.
Ya gimana, dari sekian banyak orang di dunia digital itu, kok bisa-bisanya kami saling match?
Buat yang belum tahu, di aplikasi itu—tempat kami bertemu—yang harus memulai percakapan duluan adalah pihak perempuan. Jadi, ya, dia yang nge-chat aku duluan.
“Hi there,” katanya.
Aku yang saat itu lagi kerja, balesnya malah aneh banget. Spontan aja aku kirim foto tanganku, kayak gaya "salam kenal" gitu. Tangan doang. Nggak mikir panjang, pokoknya refleks.
Eh, dibales dong! Dia kirim foto tangan juga, dengan pose yang sama. Aku langsung mikir,
“Wah ini orang menarik banget, ya.”
Dari fotonya, keliatan banget dia juga lagi kerja. Background-nya laptop, kebuka file Excel. Jadi ngebayangin aja, dua orang asing, sama-sama lagi sibuk kerja, tapi saling kirim foto tangan buat sapa kenalan. Aneh? Iya. Tapi lucu juga.
Dari situ, obrolan makin ngalir. Nggak lama, kita tukeran Instagram, lanjut ke WhatsApp.
Dunia maya memang aneh, ya. Tapi kadang dari keanehan itu, ada sesuatu yang tulus dan… bisa jadi nyata.
Dan jujur aja, ini adalah pertemuan pertamaku dengan perempuan asing—benar-benar strangers, bukan kenalan, bukan temannya teman, bukan juga mutualan lama.
Kami sepakat untuk ketemuan di Mattea Coffee Space, Cempaka Putih.
Tanggalnya? 29 Juli 2023.
Sebuah Sabtu sore yang akhirnya aku ingat terus, walau waktu itu aku nggak tau akan jadi hari bersejarah atau cuma salah satu hari gagal dari banyak kemungkinan.
Apakah bakal zonk?
Apakah bakal nyambung?
Nggak ada yang tau. Yang kami tau, yaudah… jalanin aja.
Obrolan ngalir begitu saja. Nggak ada skrip. Nggak ada ekspektasi yang kaku. Kami bahas banyak hal: tentang kerjaan, kebiasaan kecil, hal-hal yang kami sukai, sampai… hal-hal yang mungkin terlalu berat untuk ukuran pertemuan pertama.
Iya, aku sempat bahas soal pandangannya tentang child free.
Waktu itu, aku nanya tanpa mikir jauh—cuma karena pengin tahu aja cara pikirnya gimana.
Tapi belakangan, dia pernah bilang,
"Gila ya kamu, orang baru ketemu langsung nanya begituan. Nggak semua orang bisa."
Dan aku cuma bisa ketawa kecil.
Iya juga sih.
Waktu itu aku sempat ambil foto candid dia, cuma buat jaga-jaga.
Namanya juga zaman sekarang—semua serba rawan. Aku kirim fotonya ke temanku, biar kalau ada apa-apa, ada jejak terakhirku (hahaha, lebay tapi ya begitulah insting bertahan hidup di era digital).
Dan ya, dia nggak sendirian waktu itu. Dia bawa temennya, namanya Bu Ari.
Jujur aja, sebagai laki-laki aku sempat mikir:
"Lah ini kayak COD barang aja, kok bawa saksi segala."
Tapi dari sisi dia, aku ngerti juga sih. Zaman sekarang nggak bisa sembarangan. Keamanan dan rasa aman itu nomor satu.
Dan ternyata, walau awalnya canggung, pertemuan itu justru jadi awal dari sesuatu yang… menyenangkan.
Bukan tipe yang cuma jawab “iya” atau “hehe”. Ocha ini punya vibe yang hidup. Nggak yang freak, nggak yang sok jaim. Pas banget.
Dan ya… cantik.
Dari caraku melihat, dia tuh punya aura yang positive vibes banget.
Kalau boleh pakai istilah kekinian, ya semacam "Wardah vibes"—kalem, bersih, seger, dan bikin nyaman.
Bentuk tubuhnya juga proporsional.
Tenang, ini dari sudut pandangku ya. Bukan bermaksud menilai fisik secara dangkal, tapi lebih ke bagaimana keseluruhan presence-nya itu enak dilihat dan terasa pas.
Di tengah obrolan itu, dia sempat cerita bahwa dia aslinya orang Bekasi.
Iya, Bekasi—kota yang sering jadi bahan candaan karena dianggap jauh banget dari mana-mana.
Dalam hatiku langsung kayak,
“Haaaah? Bekasi??”
Maaf ya kalau lebay, tapi itu reaksi jujurku.
Ternyata lokasi tempat tinggalnya di profil bukan tempat dia tinggal sehari-hari. Dia kerja di Jakarta Pusat dan memang sering main ke rumah sepupunya di sana, makanya lokasinya terdeteksi di Jakpus.
Yaudah, masuk akal sih.
Setelah ngobrol cukup panjang, diskusi ngalor-ngidul yang surprisingly menyenangkan, akhirnya kami menutup pertemuan itu dengan sesuatu yang sederhana tapi bermakna: sholat Maghrib bareng.
Setelah itu, kami pulang ke rumah masing-masing.
Beberapa hari setelah pertemuan pertama kami, obrolan kami berlanjut dengan lebih akrab. Mulai dari chat yang isinya sekadar "sudah makan belum," sampai sharing soal hal-hal kecil yang menurut orang lain mungkin nggak penting—tapi buatku justru terasa dekat.
Sampai suatu hari, dia kirim foto.
![]() |
| ini pap waktu dia di kantor, aku mau tau gimanasih outfit dia waktu itu kalo ke kantor |
Obrolannya juga masih seputar fase PDKT: tanya-tanya hal kecil, saling tebak karakter, kadang ketawa karena hal nggak penting. Tapi ada rasa yang beda. Ada kenyamanan yang pelan-pelan tumbuh—diam-diam tapi pasti.
Waktu itu kami duduk berhadapan, seperti pertemuan pertama. Tapi menjelang pulang, entah kenapa aku kepikiran buat minta selfie bareng.
"Boleh foto dulu nggak, buat kenang-kenangan?"
Kalau dilihat sekilas, mungkin biasa aja. Tapi buatku, itu seperti momen simbolik: dari dua orang yang awalnya saling mengamati dari depan, kini mulai sejajar, mulai berdampingan.
Makeup-nya makin rapi, auranya makin keluar, senyumnya makin tajam (eh, maksudnya manis), dan... ya, makin cantik aja.
Huahaha bisa aja saya ya? Tapi jujur ini, bukan gombal.
“Kamu suka salad nggak?”
Aku jawab aja,
“Suka!”
Tanpa mikir panjang, karena ya memang suka… meskipun nggak tiap hari juga makan salad.
Eh, besoknya—21 Agustus pagi, dia kirim foto, lagi nyiapin sesuatu di dapur.
Ternyata dia beneran bikin salad wrap buatku.
Bukan cuma niat doang, salad itu beneran dikirim ke kantor, di-GoSend langsung ke mejaku.
Pagi-pagi, belum mulai kerja, udah dapet bekal dari gebetan.
Rasanya? Jujur, menarik.
Nggak cuma dari rasa makanannya, tapi dari perhatian di baliknya.
Dan yaa… jujur juga nih, sayang, setelah beberapa waktu kamu akhirnya tahu bahwa…
aku nggak begitu suka udang π.
Tapi waktu itu, aku tetap makan. Karena aku lihat lebih dari sekadar bahan salad.
Yang aku lihat itu… usaha kamu. Niat kamu. Perhatian kamu.
Masih gebetan, loh. Tapi udah bawain bekal.
Dan bukan bekal biasa. Ini tuh paket perhatian yang dikirim langsung ke tempat kerja.
Emang boleh ya?
π
Tanggal 10 September, kami ngedate lagi.
Kali ini beda—lebih estetik, lebih berkesan, dan buatku… lebih deg-degan.
Destinasinya?
Art gallery di Plaza Senayan.
Dan jujur, ini bukan tipe kencan yang biasanya aku lakukan. Tapi mungkin itu justru yang bikin semuanya terasa spesial.
Sebelum hari itu, aku sempat nahan-nahan buat ngaku sesuatu. Tapi akhirnya aku beranikan diri juga buat jujur ke Ocha.
Dengan setengah malu aku bilang:
“Ocha… aku sebenernya punya motor… tapi nggak bisa boncengan.” π
Motor yang aku punya single seater—emang dari sananya buat sendiri.
Dan rasanya canggung juga ngaku kayak gitu.
Di benakku sempat mikir:
“Duh, cewek lain mungkin langsung ilfeel.”
Tapi Ocha?
Dia cuma ketawa kecil. Nggak nge-judge, nggak sinis.
Santai aja, dan malah nanya:
“Yaudah naik MRT aja, seru kali?”
Akhirnya, hari itu kami naik MRT dan Gocar.
Dan… bener.
Seru banget.
Dari semua hal yang aku pernah alamin, date ke galeri seni naik transportasi umum bareng orang yang aku suka adalah salah satu yang paling aku nikmati.
Bukan karena mewah. Tapi karena berdua.
Rasanya beda banget.
Ini bukan sekadar jalan-jalan. Ini pengalaman.
Kemudian date by Transum juga berlanjut ke makanan korea yang katanya enak, sundubu jjigae-nya Nolda Pocha, menurut lidahku ini ga cocok tapi kenapa orang-orang sampe antri yahh?
Nahh, ini nih…
Beberapa momen yang kalau diingat sekarang, rasanya kayak galeri hidup dari tahun 2023.
Nggak ada satu pun yang megah atau heboh, tapi semuanya punya tempat spesial di hati.
Ada hari di mana aku dapat bekal lagi dari kamu.
Masih dengan perhatian yang sama, masih dengan rasa penasaran kecil dalam hati:
“Hari ini isinya apa, ya?”
Ada juga momen kita date sepulang kantor, yang capeknya ketutup karena bisa ketemu.
Rasanya beda ketika kamu udah lelah seharian, tapi ada satu orang yang bisa bikin energi kamu balik cuma dengan senyum.
Sampai ada satu momen yang jadi highlight sendiri:
Festival Jajanan Bango—pertama kalinya kita ke acara semacam itu bareng.
Kamu aku jemput, kita jalan bareng, nyobain makanan yang antriannya panjang, terus ketawa karena rasa yang B AJA wkwkwk.
Semua itu mungkin terlihat sederhana bagi orang lain…
Tapi buatku, itu seperti puzzle kecil yang bikin cerita kita utuh.
Dan di tengah semua itu, aku mulai berpikir.
Dari awal aku selalu bilang nggak bisa jemput karena motor cuma bisa buat satu orang.
Tapi makin sering jalan bareng kamu, makin kuat rasa ingin bisa berbagi perjalanan dari awal sampai akhir.
Sampai akhirnya, aku mutusin buat ganti motor.
Bukan cuma soal kendaraan.
Tapi karena aku pengin kita bisa jalan bareng dari titik berangkat, bukan cuma ketemu di tujuan.
Karena hubungan ini, menurutku, pantas buat diperjuangkan—bahkan dari hal sekecil jok motor yang cukup untuk berdua.
Aku ingat betul karena dari jauh-jauh hari aku udah mikir:
"Mau ngasih apa, ya?"
"Mau ngajak ke mana, ya?"
"Harus spesial, nggak boleh biasa-biasa aja."
Akhirnya, aku putuskan buat ngajakin dia makan steak—sesuatu yang lebih "niat" dibanding biasanya.
Biar terasa seperti perayaan, bukan sekadar makan malam biasa.
Kami rayainnya di tanggal 14 Oktober, dua hari setelah hari H-nya.
Dan setelah makan, kami lanjut nongkrong bareng.
Sama seperti biasa, obrolan ngalir, tapi hatiku waktu itu nggak biasa.
Lucunya, meskipun udah makin deket, kami masih berangkat masing-masing.
Iya, masih "sistem mandiri" π
Waktu itu aku dandan lumayan niat, aku pilih dresscode monokrom biar keliatan rapi dan cocok sama vibe malam itu.
Tapi… ya gitu deh, kepala masih botak.
Jadi waktu lihat hasil foto bareng, aku sempat mikir:
“Ini kepala kayak telur rebus nggak sih?”
Tapi dia tetap senyum. Dan entah kenapa, aku jadi lebih percaya diri.
Di antara semua canda tawa malam itu, aku sempat mikir:
“Apa dia ngerasa aku bakal nembak dia malam ini?”
Mungkin iya. Mungkin enggak.
Tapi jujur, aku waktu itu masih malu buat ngomong langsung.
Ada kata-kata yang numpuk di kepala, tapi mentok di tenggorokan.
Dan bukan karena nggak yakin. Justru karena terlalu yakin, aku jadi takut kalau momennya salah, atau ekspresinya salah, atau... pokoknya, aku takut merusak sesuatu yang udah berjalan indah.
Tapi dalam diamku, aku harap dia tahu—
bahwa malam itu, aku nggak cuma ngajak makan dan nongkrong.
Aku sedang mengumpulkan keberanian.
Aku terus mikir:
“Gimana sih cara yang tepat buat nyatain perasaan?”
Jujur aja, setelah lebih dari lima tahun nggak punya pacar, aku jadi kayak lupa cara nyatain cinta.
Bukan karena nggak yakin sama perasaanku, tapi karena takut kalau ekspresi yang aku pilih malah jadi salah paham, atau malah ngerusak suasana yang udah indah.
Akhirnya, setelah muter-muter di kepala dan debat dengan diri sendiri…
Aku mutusin buat nembak dia lewat chat.
Iya, lewat chat.
Berasa agak pecundang, ya?
Tapi bagiku saat itu, yang penting bukan bagaimana cara aku menyampaikannya.
Yang penting adalah:
Aku jujur. Aku tulus. Dan aku nyaman.
Aku tulis semua perasaanku dengan kata-kata yang aku harap bisa mewakili hati.
Tentang betapa aku nyaman, betapa aku menikmati setiap momen bersamanya, dan betapa aku ingin hubungan ini lebih dari sekadar dekat.
Dan… jawabannya?
Diterima.
Tanggal 15 Oktober 2023.
Kami resmi jadian.
Ya Tuhan, rasanya…
SENENGNYA OIIIIIIII.
Setelah lebih dari lima tahun jadi "anak sendirian", akhirnya aku punya seseorang buat berbagi cerita, perhatian, waktu, dan rasa.
Punya pacar lagi—dan bukan sekadar pacar, tapi orang yang bikin aku pengin berubah jadi versi terbaik dari diriku.
Dan ini yang lebih lucu lagi...
Temanku, waktu aku cerita kami udah jadian, dengan nada setengah kaget dan setengah kagum bilang:
“Bro... akhirnya setelah sekian tahun... KAU PUNYA PACAR JUGA!” ππ
Dan aku cuma senyum.
Karena aku tahu, ini bukan soal status. Tapi soal perasaan yang akhirnya ketemu tempat pulangnya.
Kalau kamu suatu hari nanti baca tulisan ini, berarti kamu lagi megang atau baca naskah yang cukup penting buat aku.
Dan kamu harus tau:
Cerita ini adalah bentuk penepatan janji.
Ingat nggak, waktu kamu bikin scrapbook buat aku, karena aku kalah main catur?
(Iya, waktu itu aku pura-pura jago biar kelihatan keren, eh malah kalah juga kan ya… HAHAH.)
Nah…
Ini dia.
Tulisan ini bukan cuma sekadar cerita. Ini adalah rekaman perjalanan kita—dari yang awalnya strangers di aplikasi, jadi teman ngobrol, jadi teman makan, jadi seseorang yang saling peduli… sampai akhirnya kita jadi pasangan.
Aku nulis ini sambil ketawa sendiri, kadang juga senyum-senyum kecil, bahkan beberapa kali sempat diem lama cuma buat mengingat detail kecil yang nggak mau aku lupain.
Aku nggak tau kapan aku bakal share ini ke kamu.
Mungkin nanti pas ulang tahunmu lagi, atau pas kita ngerayain anniversary, atau mungkin saat momen random ketika kamu butuh tahu betapa berartinya kamu buat aku.
Tapi satu hal yang pasti:
Ini bukan akhir cerita. Ini justru awal dari banyak bab baru yang belum tertulis.
Dan aku harap… kita tulis semuanya bareng-bareng.
Terima kasih, Ocha.
Untuk jadi orang yang bisa bikin aku pengin nulis lagi.
Untuk jadi orang yang bikin hati aku tenang dan lucu di waktu yang sama.
Dan untuk semua salad wrap, selfie, MRT, dan tawa-tawa kecil yang kelihatan sepele, tapi diam-diam membentuk hal besar di hidupku.
Seiring berjalannya waktu, hubungan kami mulai masuk ke tahap yang berbeda.
Bukan lagi sekadar manis-manis PDKT atau momen deg-degan waktu first date.
Tapi lebih ke proses yang lebih dewasa:
Saling mengenal lebih dalam.
Mencoba memahami, bukan mengubah.
Aku mulai pelan-pelan tahu, apa yang Ocha suka.
Dan ternyata, dia punya banyak hal yang disukai.
Kayak... beneran banyak.
Misalnya:
-
Dia suka makan, dan bukan cuma makan karena lapar—tapi benar-benar menikmati momen makan itu sendiri.
-
Dia suka jajan, kadang tiba-tiba bisa craving hal random kayak es krim, seblak, atau cilok pinggir jalan.
-
Dia suka perawatan, dari skincare sampai bodycare—segala yang bikin dia merasa nyaman dengan dirinya sendiri.
-
Dan dia suka kopi.
Katanya,“Aku tuh hantu kopi. Nggak ngopi, nggak hepi.”
Lucu banget rasanya melihat sisi-sisi kecil dirinya yang hidup dan jujur.
Pernah juga dia pelihara ikan, namanya “Buble”—bukan typo, emang dia nulisnya begitu.
Mungkin gabungan dari bubble dan Buble, entah karena lucu atau karena suka Michael BublΓ©?
Aku pun nggak nanya lebih jauh. Yang jelas, nama itu cocok sama vibe-nya: lucu dan random.
Tapi, dari sekian banyak hal yang dia suka, aku juga belajar satu hal penting:
Dia nggak suka dibohongin.
Bukan sekadar nggak suka dibohongin besar-besaran, tapi bahkan kebohongan kecil pun bikin dia merasa nggak nyaman.
Dan aku paham kenapa.
Karena buat dia, kejujuran itu bentuk kepercayaan paling dasar.
Dan kalau kepercayaan itu retak, akan susah buat disambung lagi.
Dari situ aku sadar, bahwa dalam hubungan ini, aku harus belajar untuk lebih jujur, lebih terbuka, dan lebih berani ngomong langsung, meski kadang takut salah.
Semenjak bareng Ocha, aku ngerasa banyak banget hal baru yang mulai masuk ke hidupku.
Dan jujur,
it’s a new thing that comes... GOOOOOOOD to me! ππ
Dulu, hidupku bisa dibilang cukup monoton. Pola yang sama setiap hari.
Tapi sejak bareng dia, tiba-tiba aku mulai ngerti tren TikTok dan tahu update dari X (Twitter).
Yang dulu cuek sama “trend-trend nggak penting”, sekarang malah bisa bilang:
“Eh sayang, ini lucu deh… yuk bikin kayak gini juga!”
Kami pernah bikin pizza bareng.
Serius, dari adonan sampai topping, semuanya kami kerjain bareng.
Dan meskipun hasilnya bentuknya tidak terlalu instagramable, tapi itu momen yang aku simpen baik-baik.
Bukan soal rasanya, tapi karena itu kami yang bikin, bareng-bareng.
Kami juga pernah bikin konten bareng—yang kadang malah lebih banyak ketawanya daripada hasil videonya.
Dan kami sering banget date after office, meski cuma buat makan atau muter-muter Jakarta atau Bekasi.
Tapi... dari semua hal seru itu, ada satu hal yang jadi GONG-nya:
Pacarku daftar member gym… DI TEMPAT YANG SAMA DENGANKU. π³
Jujur, aku agak kaget waktu dia bilang mau ikut.
Pertama, karena inisiatifnya tinggi banget (niat!).
Kedua, karena aku tahu... tempat gym itu agak pricey, dan kalau dia jarang datang, bakal sayang banget.
Tapi setelah gabung, dia jadi lumayan rajin ke gym.
Walaupun...
yang dilatih itu-itu doang π (yes, kamu tahu yang aku maksud, Cha…)
Tapi tetap aja, aku bangga. Karena itu artinya dia mau masuk ke dunia yang aku jalani, dan kami sekarang punya rutinitas baru yang sehat (dan kadang lucu).
Dan yaa...
INI GALERI LAGIIII!!!
Tapi alhamdulillah… beliau sembuh.
Dan setelah badai itu berlalu, aku tahu: aku butuh rehat. Bukan hanya fisik, tapi juga jiwa.
Dan kamu, sayang, jadi bagian besar dari proses pemulihan itu.
Bersama kamu, akhirnya kita putuskan buat main ke Bandung.
Sebuah short escape yang ternyata... berubah jadi memori yang panjang.
Kita bikin itinerary-nya di JCO Summarecon, malam-malam sambil diskusi:
“Kamu paling pengen ke mana?”
“Aku pengen cobain ini.”
“Eh, kita ke sini ya!”
Dan dari situ, perjalanan kami dimulai.
Aku jadi ngerti kenapa banyak orang bilang Bandung itu magis.
Bukan cuma karena suasananya, atau hawanya yang dingin tapi akrab.
Tapi karena waktu kamu pergi bareng orang yang kamu sayang,
Setiap sudut kota jadi terasa istimewa.
Hujan turun waktu itu.
Dan kita ujan-ujanan di Bandung, strolling around dengan langkah santai dan hati yang penuh tawa.
Tangan kita basah, tapi hatiku penuh hangat.
Kamu kasih referensi video dari Rachel Salim, katanya:
“Nih, seru banget video buatin salim ke rachel.”
Tapi akhirnya malah...
Kita buat versi kita sendiri.
Lebih banyak ngakaknya, lebih random hasilnya.
Tapi justru di situlah serunya. Karena kita nggak pernah berusaha jadi orang lain.
Kita cuma jadi kita, dan ternyata itu cukup.
Juli 2024 datang, dan di situ aku yang justru meminta putus.
Iya, aku.
Nggak ada alasan yang bisa sepenuhnya membenarkan keputusan itu.
Tapi yang aku tahu: saat itu aku merasa bingung.
Bingung sama tujuan, sama masa depan, sama diriku sendiri.
Dan ketimbang menyeretmu dalam ketidakpastian, aku memilih mundur.
Tapi sekarang aku tahu...
Itu bukan keputusan terbaik, tapi mungkin perlu terjadi.
Aku sadar, aku masih labil.
Tujuanku masih ngambang.
Dan keputusanku saat itu… melukai bukan cuma kamu, tapi aku sendiri juga.
Tapi kamu luar biasa, Cha.
Kamu nggak marah meledak-ledak.
Kamu tetap kamu—yang tenang, dewasa, dan tetap menjaga diri.
Lalu waktu berjalan...
Agustus.
Aku datang lagi. Pelan-pelan.
Nggak bawa bunga, nggak bawa rayuan, cuma bawa penyesalan dan kejujuran.
Dan akhirnya…
September 2024, kita balikan.
Di gym.
(Iya, tempat yang dulu jadi "arena kaget" karena kamu daftar jadi member.)
Lucu ya, tempat yang awalnya cuma jadi rutinitas fisik, justru jadi tempat kita mulai lagi.
Bukan dari nol, tapi dari titik yang lebih sadar dan lebih siap.
Ternyata, sebelum aku benar-benar menyelesaikan dan memberikan tulisan ini ke kamu,
kita sudah berakhir.
Tanggal 28 April 2025 menjadi penanda bahwa hubungan ini—yang sudah kita rawat, kita bentuk, kita isi dengan tawa dan air mata—harus berhenti.
Kita putus.
Bukan karena hilang rasa.
Tapi karena aku, penulis cerita ini, merasa belum siap.
Belum siap untuk mempertaruhkan masa depanmu.
Belum mampu jadi orang yang benar-benar bisa menjaga kamu dan keluargamu tanpa menyakiti.
Dan aku tahu...
Kita nggak bubar karena pertengkaran besar, bukan juga karena selingkuh atau bosan.
Tapi karena aku sadar:
Aku, dengan segala kekuranganku, masih membawa mudharat buat kamu.
Terutama dalam sikapku... pada keluargamu.
Padahal selama ini mereka adalah tipe keluarga yang easy going, yang terbuka dan hangat ke aku.
Tapi sampai akhirnya...
Shit happens.
Aku, dengan egoku, menyakiti mereka.
Dan dengan itu, aku juga menyakiti kamu.
Di titik ini, aku nggak mau lagi cari pembelaan.
Yang salah, ya aku.
Yang belum dewasa sepenuhnya, ya aku.
Yang seharusnya bisa menahan diri, tapi malah meledak… ya tetap aku.
Dan kamu…
Kamu nggak salah sedikitpun.
Kamu sudah memaafkan terlalu banyak,
sudah mengerti terlalu jauh,
dan sudah bertahan terlalu lama.
Tapi tetap, hubungan ini perlu berakhir.
Karena kalau dilanjutkan, aku takut malah jadi luka buat kamu ke depan.
“Iyain aja biar yang bohong seneng.”
Ya…
Aku sadar itu buatku.
Dan aku nggak akan membela diri.
Karena kamu berhak kesal.
Kamu berhak marah.
Aku buat di fase di mana aku jujur-jujurnya sedang sangat sedih.
Bukan cuma sedih karena kita putus.
Tapi sedih karena kita pernah punya rencana—yang bahkan udah aku simpan baik-baik di kepala dan hati.
Salah satunya adalah rencana kita ke Batu Karas.
Tempat yang pengin banget kita kunjungin bareng.
Tempat yang katanya akan kita datangi saat butuh rehat.
Tapi ternyata, cuma aku sendiri…
Yang akhirnya berangkat.
Dan ironisnya, aku pergi bareng para strangers.
Orang-orang yang bahkan awalnya gak aku kenal.
Mereka heran kenapa aku ke Batu Karas sendirian.
Dan aku jawab pelan:
“Saya ke sini buat belajar ikhlas.”
Mereka kaget.
Tapi buatku, itu memang last plan kita.
Rencana terakhir… yang harus aku selesaikan sendiri, karena kamu nggak di situ lagi.
Selama di sana, aku diam lebih banyak.
Ngobrol secukupnya.
Dan dalam diam itu, aku pelan-pelan mencoba merelakan.
Tapi tetap saja, Cha…
Kenapa perpisahan ini rasanya… belum selesai?
Kenapa masih ada hal yang mengganjal?
Kamu pernah bilang sesuatu—yang membuatku bertanya-tanya sampai sekarang.
Seolah-olah dalam ceritamu…
Ada “orang lain”.
Ada perasaan yang nggak lagi sepenuhnya untukku.
Dan aku cuma bisa tanya dalam hati:
“Apa aku dianggap selingkuh?”
Padahal...
Enggak, Cha. InsyaAllah orang itu… masih kamu.
Sampai sekarang, saat aku tulis ini.
Aku tau kamu berhak berpikir apapun.
Mungkin aku yang membuat semua jadi kabur.
Mungkin aku yang kurang jelas menjelaskan.
Aku buka Instagram kamu—akun yang kamu lebih aktif di sana, tempat kamu update hal-hal keseharian, yang cuma bisa dilihat orang-orang terdekatmu.
Dan aku lihat satu hal yang... berubah.
Tanda “Following” hijau Close Friend itu… hilang.
Berganti jadi cuma “Follow”.
Biasa aja.
Padahal dulu, aku aktif jadi fans kamu di sana.
Akun yang katanya cuma untuk orang yang kamu percaya, yang tau kamu sehari-hari.
Dan sekarang, aku tau:
Aku sudah bukan bagian dari itu lagi.
Kabar tentang kamu—cerita random, foto aib, jajan-jajan kamu, musik yang lagi kamu dengerin, cerita habis gym atau perawatan, bahkan caption nyindir halusmu di story terakhir yang aku masih kekeuh aku gak kaya gituloh—
Resmi berhenti sampai di situ.
Fix.
Nggak akan ada update apapun lagi.
Karena kamu sendiri yang mutusin, aku nggak perlu tau.
Rasanya?
Feeling blue.
Banget.
Tapi mungkin...
Ini adil, ya?
Kamu juga butuh ruang untuk menjaga dirimu dari aku.
Dari bayangan-bayangan yang mungkin masih mengganggu.
Atau mungkin, kamu juga sedang belajar ikhlas.
Sama seperti aku waktu ke Batu Karas.
Dan meski sedih, aku terima.
Karena mungkin ini caramu move on.
Mungkin ini caramu sembuh.
Dan aku harus bisa menghormati itu.
Tanda-tanda kecil di sosial media itu mungkin sepele buat orang lain.
Tapi buat yang pernah saling menyayangi,
perubahan warna “hijau” ke “abu” bisa terasa seperti...
akhir yang paling nyata.
Paragraf Penutup untuk Update Cerita:
18 Juli 2025, kita sepakat bertemu di Kalyand Coffee, Jakarta Selatan. Menembus macet Jakarta yang absurd meskipun jaraknya dekat, akhirnya kita duduk berhadapan lagi setelah sekian lama. Salaman pertama, saling tanya kabar, cerita soal kerjaan, liburan singkat, bahkan teman kamu yang aku sempat kenal—semua terasa... akrab, tapi juga asing.
Jujur, ngobrol waktu itu rasanya beda. Isi kepala aku seberisik itu—penuh keinginan buat nyampein hal-hal yang udah lama ngendap, tapi sadar, rasanya gak mungkin. Aku gak sanggup menatap matamu terlalu lama, karena di situ semua perasaan yang belum selesai seolah balik ke permukaan. Tapi di balik itu semua, aku bangga banget lihat kamu sekarang. Cara kamu ngomong, gaya kamu, sikap kamu—semuanya banyak berubah. Tapi itulah ekspresi, dan kamu bebas jadi versi terbaik dari dirimu sendiri.
Kamu cerita tentang pengalaman di dating apps, tentang rasa lelahmu, dan keinginan untuk dikenalkan lewat teman supaya bisa tahu masa lalunya. Aku ngerti—kamu pengen kenal seseorang bukan dari awal sebagai strangers, kayak waktu sama aku. Kamu pengen aman, ngerti arah, dan gak perlu jalan di kabut kayak kita dulu.
Hujan turun malam itu, dan kamu bilang mau lanjut nongkrong di tempat lain, sementara aku harus pulang. Di jalan, di antara hujan dari langit, ada juga hujan dari mata. Tapi aku tahu, ini mungkin cara semesta ngasih penutup yang lebih tenang buat kita. Dan aku harus bisa terima.
Terima kasih buat traktirannya, dan buat cerita barunya.
Siang ini 20 Juli, kamu tinggalkan komentar hangat yang aku baca pelan-pelan. Baiklah, kalau itu yang kamu rasakan, aku terima. Aku akui semua kesalahanku—terutama yang pernah mengkhianati perasaanmu. Tidak akan ada lagi penyangkalan. Terima kasih sudah pernah hadir, bertahan, dan menjadi bagian dari hidupku sampai di titik ini. Dan aku udah caritau arti lagi tampar milik juicy luicyπ


.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)


.jpeg)


.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)








